Kenawa Island
“Sesuatu yang direncanakan dengan baik sekalipun
tidak mungkin terjadi apabila Tuhan tidak mengizinkannya, begitu pula suatu hal
dapat terjadi dengan tak disangka-sangka apabila memang sudah kehendak-Nya”.
-Pilot Yasmine-
Diantara hari-hari kosong yang
terhimpit oleh UAS semester gasal ini gue menyempatkan diri untuk refreshing.
Niat yang cuma-cuma menjadikan segalanya menjadi nyata. Ya benar, ini
adalah takdir Tuhan untuk membahagiakan hati yang sedang homesick. Entah kenapa didetik-detik mau come back home gue malah galau pengen cepet-cepet sampe ke rumah,
padahal biasanya gue yang anti banget kangen rumah, mau pindah dan segala tetek
bengeknya. Mungkin dengan alasan my beloved Ayah masuk rumah sakit (yang cukup
lama) untuk pertamakalinya. Gue kepikiran Ayah, gue rindu Ayah dan mau
cepet-cepet kembali kedekapan Ayah. Ah, gue emang bener-bener anak ayah! Doain
kesehatan dan kepanjangan umur Ayah, yah.
Jum’at sore gue
dan Fina berwacana buat pergi ke Pulau Kenawa, belum tau mau ngajak
siapa-siapanya. Yang pasti bukan anak nekad karena kita sedang sibuk dengan
kegiatan masing-masing (anggap saja seperti itu). Akhirnya gue dan Fina ngajak
saudara se-mapala Gedon dan Dengdot buat jalan bareng dan diintilin Marbat
pastinya. Tapi mereka berdua berhalangan, jadi yang cus gue, Fina, Marbat dan
Shabrina plus Andri Si Anak Sumbawa yang tak mengenal Sumbawa.
Jam 5 subuh di
hari H gue sempet nge-chat Marbat buat mastiin jadi apa enggaknya, ngeliat Fina
masih bobo cantik gue udah negthink aja kalo ini cuma wacana. Kaget beberapa
menit kemudian Marbat bales dan bilang “udah jadiin aja”. Gue pun langsung
bersemangat dan buru-buru bangunin Fina. Kita prepare mandi segala macem
langsung cus janjian di portal asrama. Gue yang dateng paling terakhir terkejhoot
disana udah ada Andri temen seper-FIKOM-an. Andri yang niatnya cuma mau balikin
barang ke anak asrama tiba-tiba diajak (paksa dikit) Marbat buat ikut ke
Kenawa. Awalnya dia ragu, tapi Marbat ngedesek dan akhirnya “oke aku ikut”.
Perjalanan dimulai
dari stop mobil di Batu Alang. Si Bibi dan Si Paman yang niatanya mau berhenti
di Alas dengan kelapang dadaannya mengantar kita sampai ke Pelabuhan. Sungguh
baik masyarakat Sumbawa tuh, aku terharu. Di perjalanan banyak hal yang belum
kita tau tentang Sumbawa, apalah guna Andri si Anak Sumbawa yang tidak tau
menau tentang kampung halamannya sendiri. Ditanya ini-itu “ndak sih aku tau”
ANDRI AKU PADAMU.
Sampai di
Pelabuhan Kenawa kita yang tak henti-hentinya bersyukur. “PLEASE GAES KITA JADI
KE KENAWA” padahal baru sampe pelabuhan. Dengan kesungguhan dan keahlian
tawar-menawar kita menyewa satu kapal dengan harga 170ribu, yang semestinya
250-300ribu. Alhamdulillah. Gue sama sekali nggak percaya bakal bisa sampe di
Pulau Kenawa secepat ini. Dulu, awal dateng ke Sumbawa Pulau Kenawa ini menjadi
salah satu destinasi ter-WOUW yang mau dipijaki dan kayaknya semester satu kurang
memungkinkan buat sampai kesana. Dan ternyata gue salah, Allah meridhoi gue
untuk pergi kesana jauh lebih awal dari perkiraan gue. Alhamdulillah wa
Syukurillah.
Setelah kaki
mungil gue menyentuh pasir di Pulau Kenawa ini, gue berasa bangun dari mimpi
atau mungkin pindah ke fairytale
lainnya. “FIN, KITA SAMPE DI KENAWA FIN!”.
Laut biru muda yang jernih
Pasir putih yang lembut
Ikan buntal yang tajam dan
mengerikan
Bukit hijau yang tinggi
Langit biru yang cerah
Hamparan ilalang yang
meremajakan mata
Hembusan angin yang menyejukkan
hati
Itu semua adalah deskripsi
Pulang Kenawa hehe
“Cuma rasa cinta gue sama laut
yang nggak akan pernah hilang”
Kenawa, I’ll
be back to you! <3



