music

Tuesday, 5 February 2019

Rindu Menulis

Aku pernah berasumsi bahwa waktu yang paling pas untuk menulis itu ketika sedang sedih. Karena segala inspirasi mengalir dengan derasnya. Pasti diantara kalian ada juga kan yang ngerasain kayak gitu?

Tapi bagiku kini salah,
justru ketika aku diterpa kesedihan yang paling dalam, sedikitpun aku tak dapat berkata-kata.

6 Bulan lamanya,
Tidak berkutat pada tulisan yang menceritakan asa dan rasa. Lebih memilih bercerita dan berkeluh kesah dengan manusia terdekat. Karena dirasa hanya mulut dan air mata yang mampu bekerja.

Aku rindu pada dunia imaji yang dapat merebahkan rasa. Meski dirasa mati; tak berbalas pun tak ada jawaban atas segala pertanyaan, tapi aku cinta dan sangat menikmati waktu yang mengalir ketika aku menulis.

Semasa kemarin aku ingin sekali menjenguk tulisan-tulisanku  dan mulai merangkai tulisan baru. Banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang diriku yang kemarin (nestapa, sengsara, miris dan tragis). Sayangnya sudah sangat terlambat tuk ku abadikan. Alasannya karena terlalu bergelut dengan realita. 3 Bulan pertama adalah masa-masa aku mengalami kesedihan ter-dalam semasa hidup yang bersangkutan dengan keluarga dan 3 Bulan terakhir aku disibukkan dengan suatu amanah. Masih bergelut dengan dunia tulis menulis sih, tapi menjalankan amanah tersebut bukanlah sesuatu yang aku suka. Menjadi dia membuatku pusing mabuk kepayang karena semuanya berbau formal dan sudah mempunyai ketentuan (terbatas), pun aku feeling up buat ngatur jam kuliah dan organisasi. Bahayanya aku lebih memprioritaskan organisasi ketimbang kuliah, sehingga tugas kuliahku berantakan. hihi. Jangan pula tanyakan perihal traveling, itu hanya hayalan belaka. Nggak nggak, Aku nggak menyalahkan amanah itu. Aku menyalahkan aku. Tapi setidaknya aku dapat merasakan menjadi seseorang yang cukup disiplin dan tau sedikit tentang dunia surat-menyurat serta pembuatan proposal. Hehe Terima Kasih MAPALA MARAS

Padahal sebelum sibuk dengan segala hal yang menyibukkan dan sengaja disibuk-sibukkan, aku selalu memilih menulis untuk mengisi kegabutan. Tapi sekarang ketika ada waktu luang, aku lebih memilih berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Diam-diam menitikkan air mata. Selalu begitu, 6 Bulan lamanya.

Kalo dulunya kegiatan aku selama masa perkuliahan hanya belajar di kelas dan ngebolang (kesana kemari dan tertawa~) selepas itu bisa ngeblogging daily activities, kini aku harus memutar otak untuk membagi waktu antara kewajiban dan hak. Kewajibannya menata masa depan, haknya itu makan dan ngobrol sembarangan sama... siapa ajalah yang mau ngobrol sama aku. Agak rumit sih, tapi itu semua sangat baik untuk kesehatan jiwa. Karena hampir nggak ada celah buat mikirin hal negatif tentang ini itu. Terima kasih Tuhan, Engkau Maha Baik.

Yoe, berhubung menjalankan amanah sudah (hampir) selesai, dan kebetulan aku sedang merebahkan pikiran di rumah, mungkin ini saat yang tepat buat aku kembali curcol disini. Semoga aja nggak ada lagi mood swing dan rasa no time buat nulis. Intinya, Selamat lahir kembali diri! Harap-harap selalu tertarik dalam merawat dan membesarkan blog ini. Salam Literasi!