Saya tidak pernah sadar kalau saya terlalu sering menggunakan gawai pada setiap hari bahkan jam bahkan detiknya. Sampai pada akhirnya, kejadian itu menyadarkan saya akan nikmatnya hidup tanpa bergantung pada gawai.
Berawal dari ketika saya sedang bermain bersama teman-teman saya. Seperti biasa, kami berkumpul bersama, namun kami merasa seperti berada di dunia yang berbeda-beda. Istilah mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat mungkin sudah biasa. Tapi, itulah kenyataan akan hakikat gawai sesungguhnya. Kembali ke cerita. Setelah selesai bermain, kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah larut malam. Kebetulan saya yang rumahnya paling jauh, jadi saya buru-buru pulang ke rumah. Di perjalanan, saya meraba kantung celana, tak terasa jika telepon genggam saya terjatuh atau tertinggal, intinya tidak ada di kantung celana saya. Saya berusaha berpikir positif jika telepon genggam saya disimpan oleh teman saya. Sampai di rumah, saya cepat-cepat menghubungi teman saya menggunakan gawai yang lainnya, menanyakan apakah telepon genggam saya dia yang simpan. Ternyata tidak. Saya hanya bisa pasrah dan mencoba untuk tenang. Karena ini bukan pertama kalinya saya kehilangan telepon genggam, jadi saya tidak terlalu panik dan cemas. Pun ketika saya memberitahu kedua orang tua saya, mereka menjawab dengan bahagianya "Alhamdulillah, semoga kakak menjadi semakin rajin belajar ya" beruntunglah saya tidak dimarahi, tapi agak menjengkelkan juga sih dengan respon yang seperti itu hehe.
Pada hari-hari pertama saya kehilangan HP, saya masih gila gadget atau bisa dibilang masih nggak bisa kalau tidak memegang HP. Saya memutuskan menggunakan Laptop untuk menghubungi teman dan mencari informasi-informasi disekitar. Namun, menggunakan Laptop bukanlah hal yang praktis bagi saya. Selain berat, saya harus mencari WiFi untuk menghubungkan Laptop saya ke Internet. Benar-benar ujian yang berat. Setelah berhari-hari menggunakan Laptop, saya menyerah dengan keadaan. Saya lebih memilih untuk menulis karya tulis seperti catatan harian, puisi, ataupun sajak di waktu-waktu senggang, dan sedikit demi sedikit, tangan saya tergerak untuk membuka-buka buku pelajaran. Dengan begitu saya dapat melepas ketergantungan saya dengan gawai atau yang sering disebut dengan gadget. Kita bisa karena terbiasa. Walau awalnya sulit, namun ketika kita bisa menikmati hidup tanpa gawai, kita akan merasa lebih nyaman dan bahagia, apalagi kita mengisinya dengan hal-hal positif yang membuahkan hasil. Ini pengalamanku, mana pengalamanmu? :)
No comments:
Post a Comment