music

Tuesday, 31 July 2018

Gili Trawangan


“gue mau ke Mantar, pokoknya gue mau ke Mantar! Semua orang udah pernah ke Mantar tinggal gue sendiri yang belom, huh!”

Pernah denger nggak Negeri Di Atas Awan yang ada di film "Serdadu Kumbang"? Nggak tau kenapa gue penasaran banget buat kesana, kayak nggak percaya dan nggak bisa bayangin waktu nonton film itu. Maklum aja gue bukan orang yang imaginatif hahaha *padahal suka ngayal*

Setelah beberapa hari di Sumbawa, gue lagi sibuk-sibuknya berselancar di dunia maya buat nyari tau tentang semua destinasi yang ada di Sumbawa. Sering kali gue mendengar kata “Mantar” tapi gue selalu nggak peduliin dan nggak tertarik buat nyari tau. Tapi setelah ada temen yang pergi kesana dan sedikit bercerita tentang Mantar, seketika gue keingetan film Serdadu Kumbang itu! Dengan gercepnya gue searching Mantar dan yah, I’m Speechless.

KHAYALAN GUE UDAH DI DEPAN MATA.

4 tahun kedepan gue akan tinggal di Sumbawa yang mana di Sumbawa inilah Puncak Mantar berpijak. Ahhh senangnyah!

After Mid-Test Semester 2, gue dan ke-3 temen gue Fina, Manda dan Marbat berencana buat ngisi liburan bareng. Ada yang bilang “kangen ngompreng!” gue tanpa ragu langsung meng-iya-kan pernyataan dia dengan “Yok, kita ke Mantar!”. Sampai di hari H keberangkatan, sahabat per-nekad-an a.k.a akbar adietya yang teramat sombong ini baru pulang berorganisasi. Dengan mudahnya akbar menerima ajakan kita buat ngompreng (langsung cus nggak basa-basi, nggak ganti baju dan nggak siap-siap).

Perjalanan kita lancar sampai di Pelabuhan Poto Tano. Mobil tumpangan yang mengantar nasib untuk tidak sampai ke Mantar. Sangat sangat sedih. Mungkin lain waktu, harapku.

Alhamdulillah, kita dapet tumpangan sampai ke Kota Mataram (awalnya). Tapi karena kecerobohan kita (yang hampir gapernah absen disetiap perjalanan), kita ditinggalin orang yang mau ngangkut kita sampai tujuan. Lucu ceritanya, Marbat dan Manda yang lagi iseng-iseng buka tas kaget ngeliat tasnya penuh sama shampoo yang tumpah. Pinternya, mereka langsung mengaplikasikan busa-busa tersebut ke kepala mereka, Mereka keramasan di atas kapal. Sungguh.

Pahitnya, kita ditinggalin mobil tumpangan yang sangat menjanjikan itu! Tapi manisnya, kita dicariin tumpangan sama Pak Polisi. Yaa walaupun nggak seberuntung mobil sebelumnya yang mau nganterin sampe Mataram, tapi seenggaknya kita nggak perlu jalan berkilo-kilo dari pelabuhan ke jalan raya buat nyari mobil tumpangan.

Lombok Timur namanya, panas luar biasa dan debunya itu bisa ngerasain sensasi kayak di Jakarta. Watak masyarakatnya pun mulai beragam. Nggak kayak di Sumbawa, hampir semua mobil membolehkan untuk ditumpangi. Di Lombok, agak susah buat berhentiin mobil. Entah masyarakatnya yang sudah mengenal uang (dilihat dari banyaknya pertokoan dan banyaknya pedagang asongan) atau mungkin masyarakatnya yang menghargai angkutan umum. I think the second perception is more make a sense. Tapi itu semua nggak mudarin semangat kita buat tetep ngompreng-mengompreng hehehe

Sampai sudah di Kota Mataram!
Saatnya menjadi dora, “katakan peta! Katakan peta!” kita mulai menelurusi gang demi gang, blok demi blok, jalan demi jalan untuk menemukan “Rumah Singgah Lombok”. Daaan terimakasih Google Maps, kau mempersingkat perjalananku.

Rumah Sederhana penuh kehangatan. Walaupun gue baru pertama kali dateng ke Rumah Singgah, tapi gue bisa merasakan kehangatan disini. Ada cinta, ada keikhlasan dan ada kasih sayang. Kita berlima disambut oleh bapak tua yang sepertinya baru pulang bekerja. Beliau langsung mengarahkan kita ke Sang Ibu, yang mana sangat amat ramah. Tidak ada pandangan curiga atau apapun yang membuat kita canggung. Segalanya dijamu dengan penuh keramahan dan kehangatan.

Gue dan Fina ditempatkan dikamar yang dipisahkan dari gangguan asap rokok dan makhluk bernamakan laki-laki. Sangat aman. Benar-benar seperti rumah sendiri. Meski penghuninya datang dari berbagai penjuru daerah, tapi disini kita bertatapan seperti layaknya keluarga. Menariknya, dinding-dinding di rumah ini dipenuhi oleh bingkai foto yang mana merupakan foto kenang-kenangan dari orang-orang yang pernah singgah di rumah ini. Sangat banyak. Sampai-sampai bisa dijadikan sebagai spot foto yang unik. Macam di galeri-galeri gitu.

Setelah sedikit berbincang dengan Bapak dan Bang Gan, kita memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke daerah Lombok Barat. Sebuah pulau cantik, yang saking cantiknya dijadikan sebagai judul lagu oleh penyair. Gili Trawangan.

Sekitar pukul 8 pagi kita berangkat dari Rumah Singgah Lombok, berpamitan dengan Mamak, Bapak dan adik ganteng Al-Fatih. Mataram yang tetiba menyamakan Sumbawa derajat suhunya, membuat kaki kita ingin cepat-cepat sampai pada tujuan. Mobil demi mobil kita tumpangi, lagu demi lagu kita nyanyikan, senda gurau kita lakoni, setiap sudut tempat memberikan banyak pelajaran berharga. Perjalanan ini akan menjadi cerita yang sangat menarik untuk ku ceritakan pada kerabat-anak-dan cucuku kelak. Hehehe

Pelabuhan Bangsal namanya. Tempat kapal berlayar dan berlabuh dari ujung barat lombok ke pulau-pulau kecil indah bernama Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Destinasi awal yang kita pilih adalah Gili Meno, tapi sayang kapal terakhirnya sudah berlabuh sejak satu jam yang lalu. Sekitar 45 menit dengan biaya Rp. 17.000,00-/orang (bukan PP) untuk sampai ke Gili Trawangan. Murahkan?

Hiruk pikuk Gili Trawangan membuatku menajamkan mata, agak heran, pulaunya berada di Indonesia tapi mayoritas adalah turis mancanegara. Hanya sekitar 15% orang lokal yang berada disini. Padat, ramai, riuh, hatiku sedikit kecewa. Tak seperti pantai-pantai di Sumbawa yang sepi, tenang, merefleksikan jiwa yang seringkali tantrum akibat masalah duniawi. Tapi gue tetap bersyukur telah memijakkan kaki disini, karena banyak sekali orang yang harus menyisihkan uang dan waktu bertahun-tahun untuk pergi ke Gili Trawangan dan gue dengan cuma-cuma bisa sampai ke pulau (yang katanya) sangat elok dan mengagumkan. Alhamdulillah.

Gambarannya sama seperti ketika gue berkunjung ke salah satu Kepulauan Seribu, Untung Jawa. Dijalanan yang kecil banyak sekali manusia yang berlalu-lalang. Ada yang berjalan, bersepeda dan berkuda. Bukan pohon-pohon bakau yang menghiasi jalanan, tapi pertokoan dan resorlah yang membuat pulau ini terasa tidak alami lagi. Airnya tetap jernih, pasir pantainya juga masih putih tapi... sampah berserakan dimana-mana. Mungkin 3 atau 5 tahun lagi pantai ini akan berubah. Sangat disayangkan. Namun, ada satu hal yang membuat gue ingin mengunjungi tempat ini lagi dan lagi. Apa tebak?
Karena disini mayoritas adalah turis mancanegara, mau nggak mau gue harus pake Bahasa Inggris buat nanya ataupun ngajak ngobrol orang. Yap, disini tempat yang tepat untuk latihan conversation selain di Pare. hahaha






Hanya beberapa jam gue bersinggah di Gili Trawangan, karena kita ngejar waktu buat balik ke Sumbawa malam itu juga. Tidak ada sunrise tidak ada sunset kali ini, mungkin lain waktu.

Sangat beruntung kita dapet tumpangan yang langsung ke Mataram, Allah SWT sangat mengerti keadaan kita yang sudah benar-benar capek dan lapar. Kita menumpang dimobil pick up milik perusahaan air mineral yang tidak terlalu dikenal. Mas supirnya ini baik sekali, mereka paham dengan keadaan kita yang sedang backpacker­-an alakadarnya, seperti pernah merasakan. Masnya juga berasal dari Pulau Jawa, jadi kita lebih mudah untuk akrab.

Sampai di Mataram, kita kembali kesusahan untuk mencari tumpangan. Sekalinya dapet cuma jarak beberapa ratus meter. Adzan maghrib berkumandang “nanti dijamak aja”. Tepat di depan masjid kita berdiri, adzan isya berkumandang, tapi seolah-olah kita tak mendengar. Astaghfirullah.

Mendapat tumpangan yang lagi-lagi jaraknya pendek membuat kita lebih memilih untuk berjalan. Setelah beberapa meter berjalan dan mobil yang terakhir kita tumpangi berlalu, gue baru sadar kalo HP gue nggak ada dikantong dan entah kenapa gue yakin banget kalo HP itu ketinggalan di mobil. Akbar orang yang pertamakali gue kasih tau, langsung lari sekenceng-kencengnya buat ngejar mobil itu padahal gue tau dia lagi capek-secapeknya. Yang paling ngenes adalah Si Akbar ini lari kearah yang salah, mobilnya kemana dia lari kemana. Namanya juga Akbar.

Setengah jam berlalu, 5 kali gue nelfon hp gue nggak ada jawaban. Bimbang tapi pasrah. Mengingat-ngingat apa-apa saja yang ada di HP itu. Seluruh dokumentasi perjalanan, kenangan, hilang sirna. Mencoba buat ikhlas tapi tetep mau memperjuangkan. Di penelfonan ke-6 seseorang disana mengangkat dan langsung menanyakan posisi gue dimana. Alhamdulillah wa Syukurillah, YaAllah Terimakasih banyak. Sambil menunggu bapak itu datang, gue berdiri menjauh dari temen-temen, mencoba untuk bermuhasabah diri. Peristiwa ini telah menjadi teguran buat gue dan temen-temen yang melalaikan sholat. Salah besar memang, mengatasnamakan musafir padahal masih ada waktu dan tempat untuk sholat. Faghfirlana Yaa Kariim.

Tiba di Sumbawa pukul 4 pagi. Dingin, dingin sekali. Mencoba tidur di bruga simpang Boak tapi nggak bisa. Merenung, meresapi pelajaran-pelajaran dari perjalanan ini. Gue sadari, semua ini nggak mungkin gue dapetin di kelas atau bahkan jika gue berada di kampus impian gue dulu. Terimakasih untuk-Nya, Sumbawa dan perjalanannya.

No comments:

Post a Comment