16.13 21/12/2017
mulai dari mata ini terbuka; aku melihat dunia yang begitu terang.
matahari tak henti-hentinya menyinari bumi sumbawa yang sangat natural.
tetes demi tetes embun meluncur dari pucuk dedaunan, membasahi tanah sehingga menjadi harum.
kicauan burung dan udara yang sejuk membuat pikiran terbuka, inspirasi berdatangan bak jaringan internet 4G.
mengadu pada Tuhan, memohon agar hari ini menjadi lebih menarik dari hari sebelumnya.
membuka buku merah berisikan nasehat kehidupan, membuat diri ini lebih berhati-hati untuk menentukan arah tujuannya.
ku tutup buku.
mulai kutulis angan dan harapan.
membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat.
segar yang dirasa.
dengan mengenakan pakaian berwarna kedamaian, kulangkahkan kaki menuju tempat pertemuan.
pertemuan antara ku dan penentu masa depan (ilmu).
sebagian orang menyapaku ramah,
sebagiannya lagi hanya kuberikan lekukan bibir.
tak apa tak dibalas, sekiranya aku sudah sedikit menebar kebaikan dipagi hari.
berusaha untuk tidak membuang-buang waktu,
tetap saja mahasiswa ilkom paling gabut.
ketika rasa bosan menghampiri, ingin rasanya ku menenggelamkan diri.
berusaha untuk produktif namun hanya tulisan semacam ini yang dapat kutulis.
berfaedah atau tidak yang terpenting terlihat seperti sibuk.
seperti sekarang ini,
setengah tiduran di atas ranjang dengan laptop diatasnya.
doakan saja, semoga pemuda ini dapat sukses dikemudian hari.
music
Wednesday, 10 January 2018
Peanut
Penat.
Penat.
Peanut.
Pie.
Teman yang seperti apa yang aku butuhkan? Dimana aku bisa
menemukan teman yang benar-benar dapat dipercaya? Hidup ini indah karena ada
teman. Teman yang selalu mewarnai hari-hariku. Namun ingin ku memiliki satu
teman. Teman yang selalu mengerti keadaanku. Yang dapat menghiburku dikala
sedih dan menasehatiku secara tepat ketika aku melakukan kesalahan. Andai ia
datang diwaktu yang tepat seperti ini. Kuingin bercerita tentang kerasnya hidup
ini. Mencoba untuk menguatkan yang lain padahal diri ini sangatlah lemah. Berusaha
menghibur yang lain padahal diri ini hampa. Ia yang dihibur dan dikuatkan sama
sekali tak menyadarinya. Menganggap diri ini acuh terhadapnya. Terimakasih
untuk segalanya, sekarang aku sudah lelah. Jangan salahkan aku jika mulai hari
ini aku tidak menghiraukanmu lagi. Silahkan kamu cari aku aku yang lainnya.
Sunday, 17 December 2017
Ter-nekad part 1
Kamis, 23
November 2017
As
always ngegabut dikantin setelah UTS selesai. Sambil nungguin yang lain dateng
kita ngegabut mainin permainan jaman SD. It’s like tebak-tebakan nama (mantan).
Ngga deng, nama-nama negara. Pas semuanya udah ngumpul (kecuali Fathan sama
Ajeng yang entah perginya kemana) kita berencana buat nge-nekad, gatau kemana
yang penting jalan-jalan. Sepanjang perjalanan (kaki) menuju Batu Alang gue
sama Akbar main ayam-ayaman you know, ngga tau kenapa rasa gabut gue selalu
menggiring gue buat jadi bocah ingusan lagi. Hari ini Akbar boleh jadi
pemenang, tapi dia pernah kalah main sama gue 5 kali berturut-turut dan menurut
gue itu really really hina.
Singkat
cerita, sebelum sampe ke Batu Alang, ada mobil yang berhenti dan manggil kita
buat masuk ke dalem. Dan ternyata itu Pak Dosen. Beliau nanya kita mau kemana,
Galih menjawab kita mau ke pasar dan itu bohong. Diantarkanlah kita orang ini
ke pasar. Sampe di pasar, Abay ngeluh kelaperan, dengan teramat berat hati
Akbar dan Galih (as we know yang lagi puasa kamis) pun meng-iya-kan.
Sesampailah kita di tukang gado-gado. Gue, Fina, Abay pesen gado-gado. Akbar
sama Galih duduk manis menunggu kita makan siang. Disela-sela waktu nungguin,
Akbar ngeluuuh mulu mau buka puasa. Fina dengan lantangnya memuja-muji Si
Galih, wajah melasnya menggambarkan ia sedang bersabar dan (pura-pura)
menguatkan diri. Nggak lama kemudian, datenglah semangkuk Es Campur ke arah
kita dan ditaruhlah mangkuk tersebut di depan Si Ndusun a.k.a Galih. Ternyata
dia ngumpet-ngumpet mesen es campur supaya dibilang kuat sama kita. It’s so
ridiculous but smart enough. Akbar pun spontan teriak “MBAK ES CAMPURNYA SATU”.
Lot Of Laugh, bruh. Akhirnya mereka berduapun buka puasa bersama di siang hari
bolong.
Setelah
makan, kita ngelanjutin perjalanan dengan tujuan ke Kencana Beach. Kita dapet
tumpangan sampe daerah Labuhan. Mampir ke Masjid sebentar sekalian istirahat.
Setelah check HP ternyata Fathan nyusul kita ke Gedung Orange. Semuanya
gara-gara galih. Dia bilang kita mau nungguin Fathan disana, padahal kita udah
jalan kemana tau. Fathan pun bete dan kita bingung harus apa. Fina terobsesi
banget buat ngelanjutin perjalanan, padahal yang lain udah kayak mager-mager
gitu.
Dilanjutin
aja tuh, sampe akhirnya dapet bm-an lagi. Gue sama fina duduk di dalem, Akbar,
Abay, Galih di atas panas-panasan. Pak Irfan namanya, beliau adalah orang baik
yang Allah kirimkan untuk kita mencari ilmu bernamakan pengalaman. Sepanjang
perjalanan ia menceritakam kisah hidupnya. Beliau adalah seorang perantau asal
Banyuwangi yang sudah merantau ke Sumbawa sejak tahun 1987. Penampilannya
sangat sederhana dan (mohon maaf) seperti kuli barang pada umumnya. Yap benar,
ia hanyalah seorang pemuda biasa yang hanya bermodalkan sepuluh jari untuk
bertahan hidup di Tana Samawa ini. Namun dengan tekad dan usaha yang kuat di
tambah dengan shalat malam dan shalat dhuha, Pak Irfan dapat menikahi gadis
sumbawa dan menyekolahkan ke-empat anaknya hingga kebangku kuliah. Maha Suci
Allah, pertolongan-Nya selalu diberikan kepada siapa saja yang ingin meminta.
Sesampainya
di tempat tujuan, tepatnya di Brang Rhee, Pak Irfan ini malah memberi kita
ongkos buat balik ke UTS. Karena rezeki itu nggak boleh ditolak, diambilah uang
tersebut dengan senang hati (seneng banget). Memang ya, rezeki anak sholeh/ah
itu nggak kemana. Di pinggir pantai kita foto-foto dan make a video sebentar,
after that kita langsung caw lagi (mundur) ke Pantai Batu Gonk. Sampe disana
kita foto banyak-banyak, istirahat, menikmati hembusan angin pantai dan deburan
air laut Sumbawa yang sangat menyejukkan hati. Tiba-tiba Fathan ngabarin kalo
dia mau nyusul kita dan udah sampe di labuhan, kita putusin buat janjian di
Pantai Jempol.
Setelah
sampai disana, kita sholat ashar dan sambil nunggu Fathan, kita jajan-jajan
cantik dengan menggunakan uang pemberian Pak Irfan. Ternyata Fathan datang
bersama Mengas, Niko dan Abiyan. Tak lama dari situ, kita berbegas pulang
karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul 5. Kita nebeng 3 mobil pick up untuk
sampai ke UTS. Lagi-lagi kita bertemu orang baik yang memberi kita ongkos buat
balik, dan jumlah kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Alhamdulillah wa
syukurillah, rezeki emang nggak kemana yah hahaha
Sampai
di Batu Alang pas dengan adzan maghrib, kita menyempatkan diri buat sholat
berjamaah di Masjid Al-Kahfi. Selesai sholat ada aja yang bikin riweuh,
anak-anak cowok ribet banget mau nangkep tokek. Ada yang bisanya cuma
teriak-teriak nyuruh ini itu tapi kalo disuruh ngambil ogah, ada yang sok-sokan
berani padahal takut, ada yang diem doang ngeliatin, bahkan ada yang sibuk
dokumentasiin. Actually boys are more
rempong than girls. Dibawalah itu tokek sampe ke asrama. Bilang mau
dirawat, dibesarkan, sampe udah dikasih nama. Tapi ujung-ujungnya dilepas
karena bingung mau makan bakso tokeknya taro dimana. Sungguh terlalu manusia-manusia
ini. Selepas itu pulanglah kita ke kamar masing-masing, finally home sweet
home~
Thursday, 14 December 2017
Nekad Traveller
Di bawah
naungan pagi dan petang
Sinar matahari
menusuk tepat diatas kepala
Rasa bosan
pun menarik dirinya dari zona nyaman
Sangat
benar, takdir-Nya tak mungkin ada yang terlewatkan
Orang bilang
disana ada Bukit Kebahagiaan
Saksi bisu;
tempat dimana kita dipersatukan
Berawal dari rasa penasaran dengan bukit yang sering
dibangga-banggakan oleh masyarakat UTS ini dan kebetulan sedang vacuum of study, kita pun berencana
untuk mendaki Bukit Olat Maras. Dengan (hanya) membawa satu botol air mineral, rasa
percaya diri dari sang navigator yaitu Galih Ferdiansyah yang (pura-pura) tau
segalanya tentang daki mendaki dan pastinya atas izin Allah SWT kitapun sampai
di puncak Olat Maras bahkan meraih gelar Mahasiswa 2017 pertama yang sampai
kesana. Tidak adanya informasi yang kita dapat tentang bukit ini dan juga
kebodohan kita yang hanya membawa air satu botol untuk 7 orang serta tidak dilakukannya pemanasan
terlebih dahulu sebelum mendaki akan menjadi pelajaran tersendiri untuk kita.
Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
tepat pukul 8:00 kita berjalan menuju Gedung Dikti. Terik matahari sedikit
menguji keteguhan hati,
namun dengan adanya rasa penasaran dan teringat akan waktu luang yang
berkepanjangan, semangatpun kembali berkobar. Disepanjang perjalanan menuju
Gedung Dikti, kita mulai mengenal satu sama lain dan sedikit bersenda gurau, masih mengira bahwa
Olat Maras merupakan
tantangan yang disepelekan.
Sesampainya di kaki Bukit Olat Maras. Gue memandang puncaknya dengan seksama…
“Tak henti-hentinya
alam Indonesia membuat gue takjub, beruntung gue dilahirkan di negeri yang
indah akan kekayaan alamnya ini”.
Journey
is begin. Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2017. Tapak demi tapak kita pijaki di
tanah Olat Maras. Rasa itu mulai datang. Rasa dimana kaki sudah enggan bekerja.
Jantung berdebar begitu cepatnya. Diam menjadi pilihan untuk memulihkan asa
yang perlahan memudar. Dan sekarang, gue tak lagi dapat
menahannya. Namun api terus membakar raga, membuat diri ini bangkit untuk melanjutkan cita-cita yang belum terkejar. Terimakasih
teman, lewat kalian gue menjadi kuat. Segala dorongan
dan semangat diberikan agar gue bisa merealisasikan segala mimpi dan angan.
Tuhan mempertemukan kita untuk suatu alasan, dan gue percaya itu semua baik adanya.
Berhasil
kita sampai puncak Olat Maras, rasa lelah dan letih terbayarkan oleh
pemandangannya. Mungkin semua orang akan mengatakan begitu, tapi gue enggak. Gue yang exhausted dibebankan lagi dengan rasa mual
yang tak tertahankan. Semua orang sibuk take some pictures, gue hanya duduk diem
menahan rasa mual yang bergejolak di dalam perut. Gue memberanikan diri untuk
berdiri, ikut foto-foto sebentar dan nggak lama “mau muntah” *nada-nada lemes
manja* Akhirnya gue muntah, serasa seisi perut keluar semua. Lega. Seketika gue fresh lagi dan langsung bisa teriak dan
lari-larian. Ohiya gue harus muntah 2 kali dulu untuk merasakan kelegaan itu.
Kalo ditanya malu apa enggak, hand’s up deh! Gue udah nggak mikirin, yang
penting gue bisa survive. Malah dari peristiwa itu gue bisa tau temen-temen gue
bisa diajak asik bareng, bukan jaim bareng. Terlebih Si Abay yang ikutan uwek-uwek tapi
dia tetep nyemangatin gue.
Dari sanalah kita deket, ngerencanain
buat trip-trip selanjutnya, buat group whatsApp dan mulai mengenal lebih dekat.
Sangat senang bisa bertemu orang-orang seperti mereka, nggak pernah berhenti
buat ngehibur dan bikin nyaman. Selalu siap buat diajak sharing, mau disusahin,
mau direpotin, royal selalu berbagi daaan lainnya. Sampe suatu ketika ada
kejadian yang bikin gue mau langsung cabut aja ke rumah. Nggak mau ketemu
mereka lagi terutama 4 cowok itu. Sebenernya sih ini aib gue sendiri wkwk tapi
gapapalah gue ceritain buat sharing-sharing aja sama kalian.
Jadi gini
gaes,
Gue tuh
lagi gabut banget dikamar, rasanya pengen jalan aja gitu. Akhirnya gue sama
anak-anak kamar memutuskan untuk berkeliling naik motor tapi belum dapet
pinjeman. Kita turun ke bawah, nggak lama ada Abay lewat naik motor, gue
stop-in lah dia. “Bay pinjem motor buat ke ATM” dapet deh tuh, tapi katanya
jangan lama-lama soalnya mau dipake. Aslinya emang mau ke ATM doang, eh yang
lain malah ngajak ke Pantai Jempol. Gue yang lagi gabut gitu mana bisa nolak
yakan? Dengan jiwa tanpa dosa, gue pun jalan menuju sana. Diperjalanan hati gue
nggak begitu tenang, entahlah. Perasaan gue mulai aneh kok nih pantai kenapa
jauh banget nggak nyampe-nyampe (yang katanya cuma 15 menit ini udah ada kali setengah jam).
Setelah sampe sana, tiba-tiba Abay sama Fathan ngechat Fina nanya lagi sama gue
apa engga. Singkat cerita, setelah sampe asrama dan mau ngasih kunci, ternyata
mereka marah besar, terutama si Fathan. Gue nangis semaleman, semua anak
kamar bertanya-tanya gue kenapa, gue makin kejer. Mereka sampe buat status WA samaan “HARUSNYA
LU TUH MIKIR!!!” gila nggasih, udah tau gue orangnya lembek digituin makin down
huaaa rasanya mau pulang banget. Fina dan Ajeng jadi ikut didiemin gara-gara
gue. Mereka juga sampe left group. Pasrah ajalah yah. 3 hari berlalu, tiba-tiba
mereka ngechat dan minta kita kumpul di GOR. Asing buat gue untuk tatap muka
lagi sama mereka. Berasa udah diujung maut banget. Try to imagine abis ini kayaknya nggak bisa deh
kaya dulu lagi. Ternyata mereka ngumpulin kita untuk klarifikasi masalah itu,
dan yang paling amat teramat mengharukan alias mem-poop-kannya adalah…
they’re just tested me. Mau marah tapi gimana. Actually emang mereka marah sama
gue pada saat itu, yaiyasih jelas mereka pengen pake motor itu buat beli
makanan, belom makan dari pagi ceunah. Ceunah nyak. Tapi kalo emang bener
jatohnya gue emang parah banget sih, gatau diri, bikin kecewa, ngilangin
kepercayaan juga.
Point: Dan hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu
“sepahit apapun perkataan, jujur yang tetap harus diutamakan”. Gue beruntung
mereka orangnya, masih bisa sabar dengan kekhilafan gue. Bahkan tujuan mereka
kayak gitu to give me a lesson for be a better person. Thank you so much gaes,
kalian luar biasa!
To be honest, dari awal ketemu
gue udah nge-clop gitu
sama mereka. It feels like we have the same soul. Cocok banget sama lagunya
fourtwnty yang zona nyaman, ketika kita keluar dari zona nyaman kita (pergi
study jauh-jauh ke Sumbawa), kita mulai menemukan dan mulai merangkul pula orang-orang yang sejiwa sama kita. Kalo
nggak milih UTS mungkin kita nggak akan ketemu dan bisa sedeket ini. Kalian
bisa bayangin kan, kuliah swasta jauh-jauh di pulau antah berantah, tak ada
sanak keluarga, jauh dari perkotaan, dipenuhi dengan keterbatasan, kayak ngga
ada universitas aja dideket rumah. Betapa berat pernyataan-pernyataan itu kita
terima. Tapi balik lagi, memang
udah destinasinya kita
untuk dipertemukan then dipersatukan. Try to imagine, it’s okay lah Abay
sama Akbar emang dari SMA udah deket, mereka emang bener-bener sejoli yang tak
terpisahkan. Coba gue, gue mantan anak Darul Qur’an yang cuma kenal nama doang
sama Fina. Fathan? Ajeng? Atau Galih yang dari Lampung? Only Allah can meets
someone for a reason, entah give some lessons or stay together forever.
Kerjaan kita cuma nongkrong-makan-ngenekad repeat.
Kalo abis matkul pagi ada free time, kita nyempetin diri
buat duduk-duduk di gazebo kantin. Entah jajan-jajan cantik, nungguin temen
makan, ngobrol, nge-jokes, bahkan cuma sekedar main permainan SD (ayam-ayaman,
angkat jempol, abc 5 dasar, tebak
mantan *eh kata, dan
lain-lain. Terus kalo balik matkulnya sore, kita suka main-main di Embung
Pernek atau juga ke danau GOR sampe maghrib. Terus kalo emang lagi free banget
dan memungkinkan kita buat nge-nekad, kita cus to anywhere, without planning
and preparing. No matter how far it is, pokoknya jalan bareng. Belajar nggak
cuma di dalem kelas ajakan? Bahkan menurut gue lebih berharga ilmu yang didapet
dari pengalaman. Kita nge-nekad banyak banget faedahnya, dari bertemu
orang-orang baru (sharing cerita dan pengalaman mereka), mengenal lebih dekat
tentang Sumbawa (adat istiadat, culture, sejarah, dll), kebersamaan, keuntungan
secara materi pun nggak jarang kita dapetin.
Biasanya kita
ngenekad itu nge-bm (numpang dimobil pick up / truck
orang) nyetopin dari pinggir jalan dan itu adalah tugas perempuan, karena
kebanyakan pengemudi-pengemudi yang lebih respect sama perempuan. Bahkan
ada yang sampe ngalah duduk di losbak (belakang mobil) terus kita yang duduk di
samping supir. Belum pernah kita ngenekad naik angkot atau kendaraan yang
berbayar. Malah ada yang ngasih ongkos buat pulang naik damri saking kasihannya
ngeliat kita bm-bm gitu, tapi uangnya malah kita pake buat makan hahaha
Sangat bersyukur ditempatin di daerah yang penuh
keterbatasan ini, karena dengan begitu kita akan kaya dengan ilmu dan
pengalaman. InsyaAllah dengan begitu pula akan bermunculan pemuda-pemuda
tangguh yang siap memimpin masa depan. Aamiin
![]() |
| when we first met |
Saturday, 2 December 2017
There's Nothing To Explain
Dari awal keberangkatan, tak
sekalipun gue merasa rindu pada rumah. Gue ngerasa kayak lagi mau outing class aja gitu, yang 3-5 hari
pulang. Selama perjalanan, ada beberapa temen yang masih belum bisa ngelepas
diri dari zona nyamannya. Gue, yang biasanya ikut-ikutan nangis kalo ngeliat
orang nangis, ini biasa aja, malah nikmatin perjalanan.
Singkat cerita, sampailah di UTS,
gue shocked ngeliat keadaan asrama yang diluar ekspetasi banget. Lagi
capek-capeknya, harus mindahin barang-barang ke lantai 3, ngeliat keadaan
asrama yang super berantakan. Gimanasih ya, keadaan ruangan yang ngga diisi
selama berbulan-bulan. Kamar mandi lumutan, lantai kotor berdebu, masih banyak barang-barang
kating, mau nangis aja rasanya.
![]() |
| Rusunawa |
Dapet temen kamar yang sama
sekali ngga gue kenal. Tanpa mikir dan
merasakan malu gue nangis tersedu-sedu di depan mereka, mengeluarkan semua
keluh kesah, dan alhamdulillahnya mereka menanggapi gue, bukan malah
meng-iyuh-kan gue. Tanpa gue sangka, mereka malah men-support dan menghibur gue, padahal posisinya kita
lagi sama-sama capek. Ngga tau kenapa, gue kayak gampang banget ngebuka diri
walaupun sama orang yang baru dikenal. Gue cerita apapun yang lagi gue rasain
pada saat itu, dan merekapun memberi respon yang baik, seolah-olah mereka
menerima dengan gue yang seperti ini.
Beberapa hari di UTS, gue masih ngerasa sedikit uring-uringan, tapi
lebih banyak bahagianya sih. Lo bayangin, bisa pergi ke kota aja senengnya
bukan main. Menelurusi pinggiran Kota Sumbawa aja gue merasa bangga, bahkan
keluar dari pager UTS naik motor aja ada rasa manis-manisnya gitu. The
Definition of Ndusun.
2
minggu di UTS baru merasakan lagi kegundahan hati dikarenakan persediaan
makanan yang menipis dan akhirnya habis. Kita mulai mencari-cari warung makan
yang enak dan harganya pas. Dari Cafe Bundo, Isbud, Warteg Asrama, sampe Nasi
Ikhwan kita banding-bandingin yang padahal menu-menu disana ngga jauh berbeda.
Kalo ngga ayam, ya telur. Sayurnya pasti kacang panjang. Udah ngga mikirin enak
atau enggaknya, yang penting murah, banyak, dan kenyang. Harga makanan disini
satu porsinya sekitar 7rb – 10rb. Dengan potongan 1/3 ayam alias 1 potong ayam
dibagi 3, ditambah tempe dan sayur kacang panjang atau ngga bihun putih tanpa
bumbu. Ada bakso juga di depan portal asrama, andelan banget kalo lagi “laper
gabut” malem-malem. Bisa dibayangkan? Nikmat kok kalo lagi laper (: ![]() |
| Embung Pernek |
Masa-masa
gabut sebelum efektif masuk kampus gue isi dengan berkeliling-liling kampus. Di
UTS ini ada banyak spot yang cocok banget buat reflection. Bendungan Embung Pernek salah satunya, akan terpanah
dan terpesona dalam pandangan pertama bagi siapa saja yang melihatnya. Hanya sekitar
10 menit jalan kaki agar sampai kesana. Anginnya yang sepoi-sepoi ditambah
pemandangannya yang sangat cantik membuat hati ini menjadi tenang bahkan
berhasil mengobati luka akibat patah hati.
Ada yang lebih menakjubkan selain Embung Pernek. UTS punya apa yang
kampus-kampus lain nggak punya. Apa tebak? UTS punya bukit pribadi, namanya
Olat Maras. Olat Maras ini berasal dari Bahasa Sumbawa, Olat yang berarti bukit
dan Maras berarti kebahagiaan. Konon katanya, penduduk yang tinggal di lembah
Olat Maras ini selalu bahagia dalam keadaan apapun, ramah dan murah tersenyum
seperti gue ini hehe
![]() |
| Roof Top Olat Maras |
Sebelum masuk kuliah gue menyempatkan diri untuk ngedaki Olat Maras,
bersama orang-orang yang kini telah menjadi temen baik gue, temen sepermainan
gue, yang zooper doper ngeselin tapi sayang! Orang-orangnya adalah Fina
Rohadatul Aisy, Ajeng Lestari a.k.a
Enjeng, Akbar Fathurrachman a.k.a Abay, Fathan Nuradli a.k.a Tatan, Galih
Ferdiansyah a.k.a Bujang Rantau, dan yang terakhir adalah Ahmad Akbar Adietya
a.k.a King of Drama. Mereka ini yang selalu mewarnai hari-hari gue dengan canda
tawanya, drama-dramanya, keisengannya, dan petualangan-petualangan hebat yang
belum tentu orang lain dapetin. Dan itulah awal mula “Nekad Traveler”
terbentuk. Stick-together adalah visi kita dan misinya adalah menaklukan alam
Indonesia. Gue sangat berharap kita bisa sama-sama terus sampe giginya tinggal
dua J
![]() |
| Nekad Traveler |
UTS itu keren. UTS itu different from the other. Tiada jarak
antara dosen dan mahasiswa, bahkan sama Pak Rektor sekalipun. Gue punya cerita,
pada waktu itu cuma ada satu mata kuliah (pagi). Gue dan ce-es gue Ajeng a.k.a Enjeng berencana buat main ke kota atau jalan
kemanapun entah naik apa pokoknya kita ngga boleh balik ke asrama, kita harus
gabut produktif. Dan pas banget, temen Nekad juga lagi pada gabut kecuali Fina
yang pada saat itu lagi ada matkul. Kita duduk di deket danau biawak buat
ngelurusin rencana kita sembari nungguin Fathan sama Abay yang lagi balik ke
asrama buat naro tas. Tapi ternyata ada trouble yang tak mengizinkan kita untuk
berkelana bersama pada hari itu. Seketika mood gue hancur berantakan. Selama
perjalanan (kaki) gue nangis tersedu-sedu . Gue tetep kekeh buat nge-nekad bareng Enjeng. Tiba-tiba…
aku bertemu dengan malaikat future husband ku, dia menyapaku dan membuat mood
ini jadi bangkit lagi. Nggak lama dari
sana, ada mobil berwarna abu-abu nge-klakson-in kita. Dibukalah kaca mobil itu,
dan muncul kepala Pak Rektor “Mau kemana kalian?” sapa Pak Rektor. Singkat
cerita kita pun masuk mobil Pak Rektor dan diantarkannya kita ke ATM Boak.
Setelah dari sana, Pak Rektor meminta kita buat makan siang di rumahnya. Ahhhh
betapa nikmatnya rezeki anak sholehah. Sampai di rumah Pak Rektor kita bertemu
dengan istrinya yang ternyata masih satu kampung sama Enjeng. Istri beliau juga
orang bekasi. Ngobrol-ngobrol sama istrinya ngebuat gue ngerasa ada di Bekasi
lagi. Jadi rindu. Pak Rektor friendly nya bukan main. Itu baru salah satu aja
loh gaes, masih banyak pengalaman-pengalaman berharga yang belum tentu orang
lain dapetin selain disini. Bangga lo? Bangga of course.
Sunday, 3 September 2017
Before Sumbawa
Sampai detik ini gue sama sekali belum menyiapkan apa-apa buat pindahan
ke Sumbawa. Bukan karena nggak niat, tapi sesuai dengan lifestyle gue yang
"slow but sure" (tapi nggak sure-sure banget sih)
gue jadi tenang dan santai banget. Terlalu dini untuk mempersiapkan segalanya
yang padahal as soon as possible untuk dilakukan. haha jangan
diikutin ya .
Sebenernya inti dari gue menulis blog pada entri kali ini sih lebih
pengen ke curhat atas segala kegalauan gue yang sampai pada akhirnya yakin dan
malah ngebet buat menetap di Sumbawa. Langsung aja deh yaa
Jadi gini gaes,
gue
tuh orangnya santai tapi suka banyak kepikiran sama hal-hal yang akan gue
hadepin di depan. nggak baik kan ya? nggak sehat. Lebih ke trauma sih sama yang
udah-udah. Gue tuh takutan banget kalo sampe jatoh ke lobang yang sama. Makanya
suka mikir keras buat ngejalanin hidup yang pada akhirnya malah bikin stress
dan lemeng (lemah & cengeng).
Waktu
gue tau gue keterima di UTS, gue biasa aja. Biasa banget. Tapi seneng juga sih
karena gue nggak perlu ngerepotin orang tua lagi buat bayar keperluan kuliah
(uang jajan mah tetep ya) hehe. Gue juga seneng karena sahabat gue, Faiqoh
Hasanah as penasehat hidup juga diterima disana dengan fakultas dan jurusan
yang sama. Kita udah bikin planning sedemikian menarik. Udah yakin
bangetlah dan kejamin banget bakal bisa jadi orang yang lebih baik kalo ada dia
disana. (Lebay haha padahal depend on izin Allah dan diri sendiri)
Nah,
abis itu, seiring bergulirnya waktu,
Mulai
keluar hasil pengumuman tes-tes mandiri. Disitulah gue mulai merasa degupan
jantung yang tak beraturan.
To
be honest, gue tuh ngarepin banget dapet di UNJ, nggak tau kenapa gue yang
tadinya pengen banget jadi anak rantau tiba-tiba jadi kepengen tinggal di rumah
aja setelah ngaca pada diri sendiri yang ternyata belum siap buat “kesusahan
sendirian”.
Tapi
naas, gue nggak diterima di UNJ dan ngenesnya lagi gue nggak ikut tes mandiri
yang lain.
Beda sama Faiqoh, ternyata dia
ikut banyak banget tes mandiri. Bukan cuma dia yang deg-deg-an, gue pun ikut
serta karena gue takut dia keterima dan nggak jadi ngambil di UTS. Maafin gue
ya fey :( tapi dirikuh selalu mendoakan yang terbaik untukmuh kok. Dan bener
aja, Faiqoh dapet di UNY – teknik boga. Yaileee istriable banget kan ya tuh
orang, udah hafidzah, sholehah, jago masak lagi. Gue pun senang dan juga sedih
saat mengetahuinya.
Semenjak Faiqoh nggak jadi, gue
mulai uring-uringan mikirin ini itu "kalo nanti gini gimana ya?"
"kalo gitu?" pokonya gue kebanyakan mikir padahal tinggal jalanin.
Nah, setelah pengenalan
UTS (diundang kating) di Tambun, Bekasi. Gue jadi kenal sama temen-temen yang
mau berangkat kesana juga. Sedikit lebih tentram, apalagi setelah kenal sama
Nibras Tsabita alias Bitul yang se-fakultas sama gue. Lega. Dia juga anaknya
asik banget, gatau kenapa gue ngerasa langsung cocok pada awal
perjumpaan. Love at the first sight kali ah.
Setelah ngobrol banyak sama Bitul, gue senang dan berharap banyak
sama dia. Berharap dia bisa dijadiin tempat berkeluh kesah saat nanti di
Sumbawa. Dan yaaa, nggak ada abisnya berharap sama manusia. Ternyata Bitul
berhalangan untuk pergi ke Sumbawa karena suatu alasan yang nggak bisa gue
paksain. Tapi disitu gue galau banget woi. Sampe curhat alay-alay ke Bitul. Sempet
ngambek juga ke dia.
After that, gue berusaha
untuk membahagiakan diri. Melupakan sejenak apa yang harus gue hadepin didepan.
Ya supaya lebih enjoy aja. Gue main sepeda, baca buku, nonton film dan main
sama temen yang sekiranya bisa menghibur.
Setelah berkeluh kesah kebeberapa
temen. Ada satu jawaban yang membuat gue feel stupid. Allah. Ya jawabannya
adalah Allah. Gue punya Allah. Kenapa gue nggak pernah minta Allah buat
meyakinkan hati gue, me-neguh-kan niat, dan meng-ikhlas-kan semua keputusan
yang Ia beri. KENAPA. Gue sadar ternyata selama ini gue terlalu jauh sama
Allah. Makanya gue sering bimbang, nggak tenang, sedih terus, susah tidur,
males ngapa-ngapain, ya karena itu. Akhirnya, gue berdo’a dan berusaha untuk
bertemu dengan-Nya sesering mungkin. It feels like the miracle comes to me,
gaes. Seketika kegalauan gue hilang. Dan justru banyak hal happened seteleh
itu, yang bikin gue nggak sabar mau kesana. Ahhh dibuat meleleh ku dengan
rahmat-Nya. Alhamdulillahi rabbil alaamiin.
Semoga menginspirasi.
Wednesday, 2 August 2017
STU-DYING
Assalamualaikum ukhti wa akhi rahmatillah...
Pada entri kali ini gue akan bercerita tentang pengalaman gue ketika menjadi "murid - siswa".
Sewaktu gue Sekolah Dasar, sama sekali ngga pernah yang namanya nyontek. Tidur di kelas apalagi. Bahkan buat izin ke kamar mandi aja takut & malu. Tapi ketika gue masuk ke Sekolah Menengah Pertama, entah kenapa kepribadian gue berubah 90 derajat. Gue jadi sering tidur di kelas, bolos ke asrama (untuk tidur), nyontek pekerjaan teman walaupun dalam hati berjanji "gue akan pelajarin ini setelahnya" karena dikejar deadline dan belum ngerti materinya. Tapi kalo ulangan, boro-boro nyontek, ngelirik sebelah lagi ngapain aja takutnya masyaAllah. Intinya, SMP tuh mulai ngerasain beban hidup dan mulai menghidupkan perasaan, rasanya tuh capeee banget. padahal cuma "belajar-makan-tidur" repeat.
Ketika memasuki dunia putih-abu. My life turned 180 degrees. tertanam dalam diri gue "adanya peraturan ialah untuk dilanggar". Lebih sering bergaul sama lawan jenis karena itu membuat diri gue merasa nyaman. No drama. Gue berubah menjadi wanita brutal yang dikenal sebagian warga sekolah atas "kepetakilannya". Problematika gue pada saat itu hanyalah; Fisika. Ya, Fisika. Satu-satunya pelajaran yang bikin hidup gue amburegul tapi gapernah bisa buat bilang "bodoamat" sama pelajaran itu. Jelas, my walas is my physics's teacher. Baru 2 minggu gue sekolah, udah hampir di Drop Out gara-gara fisika. Sama sekali ngga ngerti apa yang harus dipelajarin dan I'm sorry and very thank you for my beloved teacher. Kalo ngga karena beliau mungkin gue udah jadi orang ter-bodoh di dunia. Cara didik beliau itu bukan main. Kalo kalian tau kenapa gue hampir di DO, mungkin kalian akan bilang "Buset lebay amat" "gangerti lagi" dan sebagainya. Alesannya adalah gue ngga ngerjain PR. Dan kalo kalian mau tau, sebetulnya gue udah nyalin punya temen tapi ketika gue tau partner in crime gue belum selesai dan deadline nya udah jedar-jeder, ngga jadilah gue ngumpulin. Siangnya (kayanya hidup gue berakhir pada detik ini) gue dipanggil ke Lab Fisika. Caci-maki sampe motivasi menyelimuti tubuh gue yang kehabisan darah. Dingin. Anget. Air mengalir diatas pipi. Memohon dan meminta ampunan kepada sang guru. Senang ngga jadi di DO, panik ketika amplop cokelat diberikan seusai ditanda tangan. Ya, lagi-lagi gue harus meminta ampun kepada manusia. Tante gue tercinta. Karena gue, beliau harus menanggung malu untuk dipanggil ke sekolah.
"Mana Yasmine?! Cari mati dia!" "Lagi jajan bu" "Liat aja bakal ibu jemur sampe jadi dendeng!" kata-kata maut guru fisika gue yang akan selalu dikenang.
Setelah satu tahun gue bertahan disana, gue memutuskan untuk pindah sekolah (demi masa depan yang lebih cerah). Namun keyakinan gue tidak begitu realistis, memang sebelum gue pindah sempet berjanji sama diri sendiri "setelah gue pindah, gue janji bakal jadi anak yang pendiem. Ngga banyak tingkah. Pemalu tapi gamalu-maluin". Dan ya, itu semua berhasil. walaupun ngga 100% gue bisa. Setidaknya kebadungan gue ngga kaya disekolah sebelumnya. Gue senang, karena disini, acara contek-menyontek selalu berjalan dengan mulus. Entah dipermudah oleh siapa. Masalah gue disini hanyalah "kebanyakan tugas yang ngga penting" perlahan gue sadari, IPA bukanlah bidang gue, semua pelajaran yang gue pelajari sampai akhir kelas 12 ngga pernah gue temuin fungsinya. Gue selalu iri sama anak IPS, mereka selalu belajar ilmu yang realistis, berguna untuk kehidupan sehari-hari. Hanya penyesalan yang ada pada diri gue. Pada akhir kelas 12 (bulan penuh ujian). Gue bertekad untuk menjadi jujur. Walaupun KJ (kunci jawaban) bertebaran dimana-mana, gue berusaha ngga ngelirik benda haram itu. Lagi-lagi gue di uji. Tiba-tiba file yang berisikan soal-soal Ujian Madrasah like Aqidah Akhlak, Qur'an Hadist, dll. masuk ke memori handphone gue. Rasanya tangan gatel banget buat nge-buka. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim gue bukalah file tersebut. Gue cari jawabannya, gue hafalin. Sedikit usaha gue lakuin demi ngga ngerasain malu pas ngambil rapot. Ujian Nasional; Biologi? penuh dengan hafalan. Kimia? 0 besar (ngga ada yang gue ngerti dari kelas 10. Fisika? oke, gue pilih lu karena gue ngga bisa (lagi-lagi gue ngga bisa bodoamat sama pelajaran ini. Entah, mungkin kutukan) Hari demi hari gue pelajarin dia. Buku soal gue beli karena dia. Bimbel gue datengin cuma buat dia. Dan ya, gue berhasil mendapatkan nilai 6,7 dan dari data keseluruhan yang gue liat, angka tersebut merupakan nilai tertinggi untuk pelajaran fisika di sekolah gue, ya walaupun bukan gue doang yang dapet haha AKHIRNYA YAALLAH BISA BANGGA SAMA DIRI SENDIRI. Perjuangan belum berakhir men, justru dari situlah kehidupan yang seharusnya dimulai. Setelah lulus, gue ngga sama sekali merasa lega. Tujuan seorang siswa SMA ialah mendapatkan Universitas yang diinginkan. Drama PTN; zona dimana anak SMA galau akan dirinya Akankah gue dapet PTN? atau PTS unggulan? atau ditakdirkan untuk ronin setahun? atau kerja? atau... Nikah muda? Itulah definisi galau yang sebetulnya gaes.
- SNMPTN : baru tau bisa ikut setelah H-3 verifikasi data. Tadinya selalu ngga lolos.,Terus temen iseng nyuruh buka lagi. Eh masuk. Pada jalur undangan ini gue milih : UIN SH - Sistem Informasi, UIN SH - Sastra Inggris, UNSIKA - Sastra Indonesia. Dan ngga ada yang mau nerima haha
- SPANPTKIN : UIN SH - Sastra Arab & Pend. Bhs. Inggris, UIN SGD - KPI & Pend. Bhs. Inggris. Ngga ada yang mau nerima. WHY UIN WHY.
- SBMPTN : UNJ - Sastra Indonesia, UNBRAW - Pend. Sastra Inggris, UNPAD - Sastra Indonesia. Ngga ada yang nyantol juga :(
- Swasta : UNSADA - Sastra Inggris. Alhamdulillah yaAllah lolos. Penghibur banget asli dah. Tapi deket banget dari rumah :'(
- PENMABA UNJ : Sastra Inggris & Pend. Bhs. Indonesia. Ngga lolos. PTN tak berpihak denganku sepertinya.
Super duper galau. Sedih sekaligus bahagia melihat teman-teman yang udah dapet PTN. Bingung mau ngelanjutin hidup dengan cara seperti apa lagi. Udah ngga ada semangat sama sekali. Nyesel dulu ngejadiin sekolah cuma sebagai taman bermain. Ladang buat nyari temen. Ngga dimanfaatin dengan semestinya. Buat adek-adek gemes, kalo akademik bukan bidang kalian, ikutin aja alurnya (kerjain tugas & nilai ulangan diatas KKM) tapi kalian harus aktif di organisasi. Supaya kalian ngga sia-siain masa muda kalian dengan percuma. Cari juga temen sebanyak-banyaknya, tapi bergaul sama yang baik-baik aja. Banyak-banyakin pengalaman hidup susah, dalam artian biar ngga kaget kalo tiba-tiba jatoh atau harus survive dengan situasi yang ngga memungkinkan. Terus berdoa supaya dikasih jalan yang terbaik sama Allah, tetap ber-husnudzon sama Allah, karena Allah adalah prasangka hamba-Nya. Gue yang ngga dapet buah hasil apa-apa selama menjadi murid sampai dengan siswa, karena berdoa dan bertekad ingin berubah, Allah datangkan rezeki yang ngga diduga-duga. Alhamdulillah wa syukurillah gue dapet beasiswa full di Universitas Teknologi Sumbawa. Terimakasih kepada Tuhan semesta Alam yang selalu adil kepada siapa saja yang mau bersabar. Terimakasih juga buat temen-temen yang udah mau support setiap saat, selalu menarik ketika gue merasa jauh dari Allah, selalu ngingetin kalo rencana Allah itu baik, dan hal berharga lainnya yang ngga bisa gue sebutin satu persatu. Terimakasih juga buat kedua orang tua gue, yang selalu memotivasi gue dengan cara mereka (yang ngga begitu gue bisa terima) tapi sangat berarti buat gue, without them I'm nothing. Gue berharap coretan ini bisa sedikit memotivasi, menginspirasi, atau bahkan bisa jadi jalan keluar buat masalah yang kalian sedang hadapi. Kurang lebihnya mohon maaf, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
ada sedikit gambaran diri gue ketika menjadi murid - siswa:
Sekolah Dasar
Sekolah Menengah Pertama
Sekolah Menengah Atas
Sekolah Menengah Atas
Subscribe to:
Posts (Atom)














